Postingan

Permintaan si anak ajaib

Nokia N72 merupakan hp pertama gue, di terima pada kelas 5 SD pemberian langsung dari Bapak yang tulus menyayangi anaknya (itu gue). Hhmmm, karena ini cerita tentang masa kecil saat gue masih polos, dan masih di bego-begoin sama abang-abang tukang gambaran yang “katanya” kalau menang bisa dapat PS1!. Gue akan menceritakannya sepolos mungkin. Alkisah gue itu tipe bocah yang selalu pengen barang milik orang lain, apalagi kalau barang itu terkesan WOW. Habis pulang sekolah biasanya gue main dulu di taman dekat sekolah, bahkan main sampai sore maklum lah gue itu pantang pulang sebelum adzan maghrib menjelang hehehe, soalnya kalau gue pulang cepat sering di suruh-suruh sama Mamah.  Nah!, karena gue belum pernah di suruh main sampai maghrib sama mamah, jadi gue berinisiatif untuk main sampai maghrib. Gue harap semuanya pada mengerti ya, kalau gue itu bukan anak yang bandel, tapi gue itu anak yang berinisiatif tinggi serta menjunjung hak dan kewajiban seorang Ibu untuk “ngome...

Egois

Egois Aku ingin di sukai Aku ingin di sayangi Aku ingin di cintai Aku ingin... Tapi aku tidak ingin mencintai Menyayangi pun aku tak ingin Aku tahu ini salah Aku egois Tolong jangan buat aku mencintaimu Walaupun senyum itu cukup membuatku bahagia  Berhenti!, tolong berhenti!! Berhenti membuatku bahagia Aku tidak ingin sakit pada akhirnya Aku tidak ingin kamu berhenti mencintaiku Berhenti karena aku tidak bisa tersenyum lagi Aku egois...

Malaikatku

Malaikatku Aku bukan siapa-siapa Termasuk di matamu dulu Entah apa dan bagaimana Tuhan mempertemukan aku dan kamu Dulu... Dulu aku dan kamu menjadi kita Bahkan ini bukan sebuah cerita Bagaikan buku gambar penuh warna Mengingatnya seperti anak kecil tertawa Bahagia dan begitu ceria Iya... Itulah kita Kamu malaikatku Aku yakin kamu tercipta untukku Tapi tidak denganmu Kamu yang mengharapkannya, bukan aku Kamu hanya menyadari betapa besar aku mencintaimu Andaikan kamu tahu rasanya menjadi aku  Kamu menyadari betapa besar aku mencintaimu Apakah itu alasan kenapa kamu menjauh? Bodohnya aku yang masih menunggu Dan menyimpan pertanyaan tentangmu Apakah kamu akan menjadi malaikatku lagi? Malaikat suci yang mengisi hati

“Cinta, Wanita, Janda, sampai Waria”

“Cinta, Wanita, Janda, sampai Waria” aku jatuh cinta tidak kepada semua wanita hanya dia wanita bukan janda apalagi waria jangan sebut dia bunga karena bukan korban yang teraniaya dan aku bukan penjahatnya hanya cinta membuat aku bahagia orang lain bilang aku gila cinta itu... Seperti ganja aku jadi senyum-senyum mirip kuda pantas saja aku di bilang gila tapi tak apa namanya juga cinta walaupun hati tak terbaca mungkin dia buta bukan buta warna karena hati punya indra mata hati namanya bukan matahari ya cinta membuatku lupa derita memang sih panasnya kayak neraka ahhh cinta senyum aja sambil ketawa-tawa aku tidak gila ini pengaruh ganja eehhh?, janda maksudnya lahhh?, wanita!!!

Alesana

“Alesana” aku jatuh cinta kepada Alesana bukan wanita tapi sebuah karya lagu tanpa makna atau seperti jeritan neraka itu sih kata mereka padahal tidak juga namanya juga manusia semua berbeda jika sama? Jelas bukan manusia

Mencaci Waktu

“Mencaci waktu” kemarin, sekarang, dan esok tidak selamanya ceritaku tertulis dengan elok bisa saja aku bahagia atau teraniaya bahagia sekejap mata derita selamanya telah banyak teori dari ilmuwan terkemuka namun sia-sia mereka dibunuhnya.... Juga kau menjadi saksi kau yang mengeksekusi aku memang bukan manusia suci tapi... Tolong berhenti berhenti menindasku berhenti mengabaikanku karena aku... bukanlah musuhmu aku bagaikan duri dari bunga dengan tubuh yang penuh luka perlahan membatu terbujur layu, lalu... Menjadi abu

Pagi

“Pagi” tik tok tik tok... matahari mulai bersinar malam pun perlahan rontok ketika sang fajar tersenyum lebar inginku iris kupingmu agar kamu tahu aku memanggil di balik mimpi membisikkan di antara sepasang matamu yang sayu di balik mentariku titip puisi puisi tentang ungkapan hati hanya ungkapan yang tidak terbaca mungkin cinta yang telah mati karena sepinya jiwa

“Mati”

“Mati” bersembunyi di balik bayang-bayang malam apakah aku dapat melihat fajar menyapa atau hanya menyaksikan raga memudar yang perlahan menikam kenapa aku ada?, apa yang harus aku percaya? Tidak ada lagi cinta hanya tetesan airmata airmata untukku karena raga tidak lagi menjadi milikku waktunya telah datang kemarin memanggilku tanpa izin jiwa memudar, ringan terasa mungkin sudah saatnya aku khawatir surga atau neraka

Boneka

“Boneka” Boneka... Ku titip padamu Sesuatu yang tak akan ku lupa Karena hanya untukmu Lihatlah Apakah ia tertawa? Tentu tidak Ia hanya boneka Dengarlah Senyumnya memang membatu Tapi percayalah Di situ aku titipkan rindu

Mengancam Tuhan

“Mengancam Tuhan” Aku sama seperti mereka Begitupun mereka... Tapi... Kenapa mereka membunuh diri sendiri? Menjalani semuanya dengan santai Di temani sepuntung rokok di sela-sela jari Dan senyum menjijikan sepanjang hari Apakah mereka tidak bersyukur untuk semua yang diberi? Pada akhirnya kita semua akan mati Prinsip yang di genggam sampai mati Merasa paling frustasi Padahal, semuanya karena mereka berdiam diri Tuhan... Apakah semua itu wajar? Pasrah di penghujung harapan? Lalu tewas terkapar Kenapa aku iri dengan mereka? Apakah aku harus menjadi seperti itu? Hidup di temani alat pembunuh harapan Kenapa tidak engkau cabut saja nafas ini? Nafas yang menemaniku mengejar impian Tapi tergampar dengan semua keterbatasan Bunuh aku tuhan... Daripada aku harus mencari pelarian

Bunga

“Bunga” Pagi ini aku membuka mata Dan mulai bertanya-tanya Semuanya selalu sama setiap harinya Kekosongan akan cinta Bunga… Sepertinya hanya fatamorgana Dalam hati nan fana Tapi, kenapa begitu nyata? Sebatang bunga yang menyesakkan hati Wajarkah aku bahagia? Padahal hanya durinya yang terasa nyata? Yang terus menusuk dinding hati berkali-kali Memeluk asa berharap semua ini nyata Sampai menyakiti jiwa Tapi hangatnya menyelimuti raga Tak apa walau hanya duri yang aku rasa Bunga akan layu tanpa air bukan? Hati berdarah, dan air mata menetes memenuhi sukma Cukup untuk menjaga Bunga, dan duri ini tetap hidup di dalam hati walau menyakiti Pagi ini aku membuka mata, sama saja seperti hari sebelumnya, dan aku mulai bertanya-tanya “kenapa semuanya selalu sama setiap harinya?” seperti hidup dalam kurungan putus asa. Ya, sama selalu kosong akan cinta, benar-benar kosong, seperti melihat langit tanpa bintang… Sangat hampa. “Bunga…” selalu terbayang di pikiranku atau sepertinya ia menghantuiku. Ah...

“Hanya Cinta”

“Hanya Cinta” Takut... aku memang terlalu takut takut sayang ini semakin merasuki hati tapi aku tidak akan pergi Pecundang... diam ketika cintanya pergi, dan menjauh terbang sedangkan aku tetap disini, bersama sepi Kalah... mundur, dan menyerah karena aku tidak punya apa-apa hanya cinta

“Hina”

“Hina” Mereka bilang cinta itu indah Mereka tidak salah Tapi kenapa cinta membuatku merintih? Sungguh perih, lebih dari sedih hatiku telah kelam oleh cinta atas manusia yang membutakan mata lalu meneteskannya sampai aku tenggelam Betapa hina dan berdosanya aku Menangis.... Karena manusia yang di ciptakan penciptaku Tuhan... Apakah engkau masih mendengarku? Mendengar penyesalan dari hambamu yang lemah? Dari aku yang tidak mampu mengendalikan hati

26 "Surat Untuk Api"

Habis mengantar Lili ke rumahnya gue cuma senyum-senyum aja sambil naik Susilo dengan santai, walaupun terjebak lampu merah tetap senyum kawan hehehe. Gue liat di seberang jalan ada pak polisi sedang memperhatikan gue dari tadi, mungkin dia kira gue lagi mabuk kali ya hahaha “Saya lagi di mabuk cinta pak” rasanya pengen menyapa Pak Polisi sambil ngomong kayak gitu, tapi gue balas dengan senyuman aja deh karena senyum itu ibadah hehehe. Bentar-bentar... Lah kok ada lampu merah?. Waahhh!, rumah gue udah kelewat :(. Sekarang gue nggak bisa tetap senyum :( mau mutar balik jauh, udah gitu macet, dan udah gitu bakal ketemu Pak Polisi tadi :(. “Apa yang harus gue lakukan” lagi searching di otak loading... loading... Please Wait... Error!. Aduuhhh, pasrah aja deh gue. “selamat malam, bisa tolong ke pinggir pak?” tuh kan pasti Pak Polisinya mau mentertawakan gue nih gara-gara lupa sama rumah sendiri, ehh kok suara Pak Polisinya mirip kayak suara Bokapnya Lili yak hahaha, tapi kenapa manggil ...

25.3 "Ini Bukan Tentang LOVE"

~~Plaakkkkk~~ “elu tidur biasa aje napa, brisik bener! Enyak ampe kaget nih!” “Nyyaaakkkk Bapi mimpi buruk :(“ ternyata gue lagi tidur siang terus di gampar pake sendal jepit!, tapi gue lega untung cuma mimpi “mangkanye jangan tidur mulu! Udah mandi sono bentar lagi ashar”   Salah makan apa gue sampai mimpi buruk kayak gitu, untuk menghilangkan sisa kepanikan yang masih ada dalam jiwa gue ini, jiwa yang terkumpul secara “terpaksa” karena di gampar sendal jepit -_- jadi gue langsung mandi, dan lagi-lagi terpaksa nggak ada konser di kamar mandi. Bagaimana pun juga gue tetap khawatir sama Lili walau tadi itu cuma mimpi buruk, dan sore ini gue harus ke rumah Lili sekalian memastikan keadaan dia sama keluarganya. ~~ trengg teteng teng tengggg... ~~ “Yuuuhuuu Bel panggilin Lili dong” Namanya juga lagi buru-buru jadi langsung gue skip sampai Susilo berhenti di depan rumahnya Lili, oh iya gue diem-diem bawa Susilo padahal mah nggak boleh sama Bokap hehehe “Apiii, yuk” Lili bikin gue ...

25.2 "Ini Bukan Tentang LOVE”

Nyonya besar sudah sampai rumah dengan selamat, dan sekarang waktunya gue pulang panas-panasan sama Jangkrik. Siang ini matahari lagi melotot ngeliatin gue naik Jangkrik, gila panas banget dah ibu kota ini, tapi karena gue pria tangguh! Panasnya cuma ada di pikiran, dan sekarang ini pikiran gue lagi penuh di isi sama Lili... Lili... Lili itu artinya panas matahari ini kalah sama panasnya cinta dari Lili hahaha. Sampai rumah nanti gue mau langsung tidur siang, tapi gue nggak lupa untuk sholat dzuhur namanya juga anak betawi coy!. ~~jejejejengggg jejejejenggg...~~ Pii nanti sore ke rumah aku ya :) baru mau tidur ehh ada SMS dari Lili, tapi kok tumben dia SMS, dan suruh gue ke rumah dia... Walaupun dapet SMS yang mengandung 45% ancaman tetap aja nggak bisa menghancurkan niat gue buat tidur siang hehehe, siang ini gue benar-benar lelah, benar-benar letih #apasihgue     , dan tadinya pengen gue bales SMS Lili sekalian mau nanyain ada apa sore-sore di rumahnya...

25.1 "Ini Bukan Tentang LOVE”

Setiap hari gue ke rumah Lili, dan Hari libur besok Lili mau ke rumah gue katanya mau belajar masak sama Nyokap gue... Itu artinya gue bisa berduaan sama Lili tanpa di ganggu sama si OM aka Bokapnya Lili! Ahuuu ahuuu. Tunggu bentar!, kenapa gue malah kayak DBT -_- ahhh bodo amat namanya juga lagi berbunga-bunga muehehe. Seperti biasa setiap malam pasti gue ikut ngumpul bareng DBT di depan rumah bareng sama Bokap gue juga, atau jangan-jangan Bokap gue udah jadi anak buahnya si Iqbal? Wahh!! bisa kacau urusannya kalo Bokap gue juga ikut-ikutan ngomong pake bahasa Bro Bro Yoo! Bisa di jadiin sayur asem sama Nyokap gue ini mah!. DBT katanya besok mau ikut latihan Pencak Silat sama Bokap, gue di suruh ngajarin dasar-dasar Pencak Silat ke mereka, dan gue nggak bisa nolak! Kalo gue nolak aliran dana buat pacaran sama Lili akan di putus :(. Rencana gue gagal!, besok Lili mau ke rumah gue, ta-tapi gue nggak bisa berduaan sama Lili :( itu rasanya sama kayak makan bihun pake garpu som...

24.2 "Generasi Idiot"

Gue senang karena Lili bisa menerima sahabat-sahabat gue yang heboh ini hehehe Lili ngomongin DBT terus di kelas, dan katanya gue itu orang yang beruntung karena punya sahabat kayak mereka. Gue nggak beruntung! Tapi persahabatan ini lebih dari keberuntungan! Karena keberuntungan tidak akan bisa mempertemukan kami sampai seperti sekarang ini hahaha... Mereka menerima gue, mereka mendukung gue, dan gue akan membalas itu sebisa mungkin. Untungnya pelajaran terakhir tugasnya di suruh bikin kelompok jadi gue sama Lili bisa terus pacaran ~~ehh maksudnya bisa terus belajar bareng hehehe. Pelajaran terakhir ini semacam perdebatan gitu jadi ada yang bertanya, ada yang nggak setuju, dan ada yang nggak menjawab juga hehehe. Iqbal jadi yang paling bawel pengen nanya, dan pertanyaannya itu dari Rafi pas si Iqbal di tanya balik malah bingung sendiri dia hahaha. Sekolah hari ini berjalan dengan sangat menyenangkan hahaha. “yah Api maafin aku ya :(“ “Maaf kenapa Lili?” ...

24.1 "Generasi Idiot"

Lili :D kamu lagi apa? ← Terkirim Aku lagi mikirin kamu tau ehehehe ← Terkirim Abis mendengarkan cerita cinta si Yusup alias Bokap gue, gue jadi kangen sama Lili, dan muncul ide buat SMS dia biar kayak orang pacaran gitu SMSan & teleponan sambil manggil ayang, bebeb, papih, bunda hehehe, tapi gue tersadar kalo manggil kayak gitu terlalu berlebihan serta merta bikin suasana di sekitar jadi nggak kondusif lagi. “Hai bunda, papih lagi kangen nih” lagi asik teleponan kayak gitu tiba-tiba ada Nyokap... Habis sudah uang jajan selama satu semester :( Semalaman gue menunggu SMS balasan dari Lili, tapi nggak di bales padahal udah terkirim :( atau jangan-jangan Lili bakal ngilang lagi kayak waktu itu... Te-terus gue galau lagi?. Waaahh!, iya sih gue nggak ngikutin jejak Bokap yang di tolak sampe 15 Kali, tapi gue akan punya cerita suram sendiri :(. Pokoknya gue nggak terima! Di karenakan sawahnya udah berubah jadi tempat parkir ~~lah “Enyaaakkk! Cepetan! Bapi udah mul...